FinanceInsurance

Baju Adat dan Keindonesiaan Kita

15 / 100

Baju Adat dan Keindonesiaan Kita

Hampir saban tahun penduduk memandang “parade” baju kebiasaan yang digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) didalam perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sehari sebelum upacara tujuh belasan, saat berpidato di sidang dengan DPD dan DPR RI, Jokowi Mengenakan baju tradisi Sasak. Sementara itu, tepat saat upacara Hari Ulang Tahun Ke-74 Republik Indonesia (17-8-2019), Jokowi tampil bersama dengan mengenakan pakaian adat Bali. Hampir seluruh tamu undangan yang singgah termasuk berlomba-lomba memakai baju adat berasal dari beraneka area di Indonesia.

Pakaian rutinitas menjadi simbol tentang keragaman Indonesia, terdiri atas beraneka suku dan etnis. Dominasi jas dan songkok hitam yang sepanjang ini sering dijumpai terhadap upacara-upacara kenegaraan, game slot gacor hari ini itu tak tampak. Kita melekatkan gagasan dan wacana lewat sandang. Apa yang kami manfaatkan dapat merepresentasikan dari mana kita berasal, bagaimana pembawaan dan kultur yang dibangun. Karena berbusana adat bermakna coba perlihatkan eksistensi diri dan sekaligus penguatan mengenai identitas kebangsaan negeri ini.

Tak Sekadar Kain

Baju bukan semata rajutan benang yang menutupi tubuh. Baju jadi benda eksistensial. Baju memperlihatkan harga diri. Karena itu, penilaian akan seseorang kerap dilakukan melalui seperangkat pakaian yang dikenakannya. Baju sesudah itu jadi pengisahan mengenai kaya dan miskin, kota dan desa, dan juga kuno dan kini.

Masyarakat Indonesia menempatkan sandang terhadap urutan pertama, diikuti pangan dan papan. Hal itu berarti bahwa busana adalah pemuliaan tentang kebijaksanaan hidup, menempatkan manusia sebagai “manusia”, membedakan diri dengan makhluk lain. Tradisi lantas memberi tambahan penekanan perihal makna sandang atas nama pakaian adat.

Baju kebiasaan melekatkan dirinya bersama simbol-simbol dan nilai-nilai yang hakiki. Persoalan warna, bahan, dan jahitan bukanlah moment yang sepele, namun condong kompleks dan rigid. Kekompleksan dan kerigidan itu adalah hasil akumulatif berasal dari perenungan dan pengembaraan makna yang panjang.

Karena itu, berbaju tradisi menumbuhkan kebanggan dan kecintaan. Kita dipersatukan melalui baju rutinitas yang kami pakai. Sekat-sekat dan batas pada kaya-miskin serta tinggi-rendah, oposisi-koalisi, menjadi hilang. Dengan berbaju adat, semua setara dan seimbang. Tidak tersedia kalah-menang, superior-inferior, besar-kecil.

Hal itu sekaligus mendekonstruksi pandangan kaum kapitalis yang menempatkan busana sebagai pemujaan bakal modernitas. Baju-pakaian atas nama zaman tetap berubah, dari wujud dan gaya. Masyarakat mengikuti agar tidak dikata ketinggalan zaman, katrok, udik, dan ndeso.

Namun, sejatinya seluruh kembali pada masalah hitung-hitungan untungkan rugi yang kapitalistik. Model, gaya, dan bentuk sengaja dilahirkan demi pamrih kapital. Wacana dan stereotipe dibangun melalui baju. Kita sesudah itu mengimbuhkan dikotomi pada yang pantas dan tak pantas untuk dipakai.

Di balik ingar bingar baju-baju baru, kami seringkali meremehkan pakaian adat sebagai sebuah pewarisan tradisi. Bahkan, tak jarang baju rutinitas berhadapan bersama beraneka penilaian yang cenderung merendahkan, berkonotasi negatif, kuno, terbelakang. Memakainya memunculkan rasa minder dan malu. Sama bersama musik tradisi, memainkannya melahirkan cibiran dan sindiran.

Karena itu, Mengenakan pakaian kebiasaan didalam bermacam seremonial dan upacara kenegaraan (terutama hari kemerdekaan lebih dari satu tahun belakangan) adalah sebuah harapan baru bagi nasib hidup baju-baju adat di negeri ini supaya tak melulu diakui berpamit mati. Setidaknya, berbaju rutinitas mengimbuhkan teladan bernilai bagi generasi (milenial) negeri ini. Berbaju adat sanggup mengimbuhkan penyegaran didalam kemonotonan berbusana saban hari.

Selama ini nasib hidup pakaian rutinitas semata hanya jadi gugusan wacana dan gagasan bagi para desainer, supaya rancangannya diakui eksentrik karena berbasis tradisi. Baju adat berpendar di dalam wacana, tapi tak dapat tampil secara imanen alias mandiri.

Tak ada salahnya pula terkecuali bisa dibentuk hari baju tradisi nasional, di mana setiap orang bersama dengan berbagai latar suku dan etnis memakai busana rutinitas versi mereka. Hal yang lebih mutlak adalah menggelorakan wacana dan asumsi baru, bahwa berbaju kebiasaan adalah sebuah kebanggan diri.

Dalam deklarasi itu, kami menyaksikan parade pakaian adat dipertontonkan. Tradisi memberikan penguatan untuk semakin menumbuhkan kecintaan bagi Indonesia. Hal berikut juga jadi semacam oase di selagi akhir-akhir ini gejolak menentang pluralisme gencar terjadi. Paham-paham radikal yang berupaya menyeragamkan manusia Indonesia bermunculan, bahkan sering pakai agama sebagai kedok.

Oleh dikarenakan itu, tunjukkan kekayaan rutinitas yang kami memiliki menjadi detoksifikasi atas semua itu. Perayaan hari kemerdekaan adalah fasilitas aktualisasi untuk lagi mengingatkan berkenaan makna mutlak perbedaan.

Bukankah kebudayaan nasional dibangun berasal dari puncak-puncak kebudayaan tempat yang tidak serupa itu? Berbaju adat, bermusik tradisi, berbahasa daerah, adalah sebentuk penghargaan bagi Indonesia di dalam melindungi marwah keindonesiaan kami di hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button